Perubahan dalam dunia pendidikan menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari, terutama sejak perkembangan teknologi dan pandemi Covid-19 mengubah cara guru menjalankan pekerjaannya. Guru tidak hanya dituntut mampu mengajar seperti biasa, tetapi juga harus siap menyesuaikan diri dengan metode pembelajaran baru, penggunaan teknologi, kebijakan sekolah, serta kebutuhan siswa yang terus berubah. Disini dibahas bagaimana kepemimpinan transformasional dan efikasi diri dapat memengaruhi kesiapan guru untuk berubah melalui keterikatan kerja. Penelitian ini dilakukan pada 124 guru SMP di wilayah Pringsewu, Lampung, dengan tujuan melihat sejauh mana keyakinan diri guru, dukungan kepala sekolah, dan semangat kerja dapat membantu guru lebih terbuka dalam menghadapi perubahan.

Efikasi diri dapat dipahami sebagai keyakinan seseorang terhadap kemampuannya dalam menyelesaikan tugas. Dalam konteks guru, efikasi diri terlihat dari rasa percaya diri saat mengajar, mendidik siswa, menyelesaikan pekerjaan, dan menghadapi tantangan di sekolah. Namun, efikasi diri tidak secara langsung membuat guru siap menerima perubahan. Hal ini dapat terjadi karena guru mungkin merasa yakin dengan kemampuan mengajarnya, tetapi belum tentu merasa siap menggunakan teknologi baru atau menjalankan sistem pembelajaran yang berbeda. Meski begitu, efikasi diri tetap memiliki peran penting karena dapat meningkatkan keterikatan kerja. Guru yang percaya pada kemampuannya biasanya lebih bertanggung jawab, lebih bersemangat, dan lebih memiliki kedekatan emosional dengan pekerjaannya.

Selain efikasi diri, kepemimpinan transformasional juga menjadi faktor penting dalam mendorong kesiapan guru untuk berubah. Kepala sekolah yang memiliki gaya kepemimpinan transformasional mampu memberi motivasi, inspirasi, arahan, serta dorongan agar guru berani mencoba hal baru. Pemimpin seperti ini tidak hanya memberi perintah, tetapi juga membangun semangat, membuka ruang kreativitas, dan membantu guru melihat perubahan sebagai kesempatan untuk berkembang. Ketika guru merasa didukung oleh pemimpinnya, mereka akan lebih mudah menerima perubahan dan lebih siap menyesuaikan diri dengan tuntutan baru di lingkungan sekolah. Kepemimpinan transformasional dapat meningkatkan keterikatan kerja guru karena guru merasa pekerjaannya lebih dihargai dan memiliki makna.

Keterikatan kerja menjadi penghubung yang sangat penting dalam membentuk kesiapan untuk berubah. Guru yang memiliki keterikatan kerja tinggi biasanya lebih antusias, lebih fokus, dan lebih berdedikasi dalam menjalankan tugas. Mereka tidak hanya bekerja karena kewajiban, tetapi juga karena merasa memiliki tanggung jawab moral terhadap pendidikan siswa. Dalam situasi perubahan, guru dengan keterikatan kerja yang kuat akan lebih mudah belajar, beradaptasi, dan menerima kebijakan baru. Oleh karena itu, kesiapan untuk berubah tidak cukup hanya dibangun dari rasa percaya diri, tetapi juga membutuhkan dukungan pemimpin dan hubungan emosional yang kuat dengan pekerjaan. Pada akhirnya, sekolah perlu memperkuat pelatihan, meningkatkan kompetensi guru, dan menciptakan kepemimpinan yang mampu menginspirasi agar perubahan dapat diterima dengan lebih baik. Dengan dukungan yang tepat, perubahan bukan lagi dianggap sebagai beban, melainkan sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

 

Referensi:

Meria, L., Saukani, Prastyani, D., & Dudhat, A. (2022). The role of transformational leadership and self-efficacy on readiness to change through work engagement. Aptisi Transactions on Technopreneurship (ATT), Volume 4, Nomor 1, 2022.

https://www.scopus.com/pages/publications/85149271380?origin=resultslist

 

(TFR)