Pandemi COVID-19 memang tidak lagi menjadi sorotan utama, tetapi dampaknya masih terasa kuat dalam kehidupan remaja. Bagi banyak anak usia belasan tahun, masa pandemi bukan hanya soal belajar dari rumah, melainkan juga tentang hilangnya rutinitas, terputusnya hubungan sosial, dan munculnya rasa tidak aman yang berubah menjadi kecemasan berkepanjangan. Sebuah studi yang melibatkan 1.262 remaja berusia 12 hingga 17 tahun di Da Nang, Vietnam, menunjukkan besarnya perubahan emosional yang mereka alami selama dan setelah masa pandemi.
Ketika pembatasan sosial masih diberlakukan, perasaan seperti bosan, takut, kesepian, dan cemas menjadi hal yang paling sering dirasakan. Namun, saat kondisi mulai membaik dan aktivitas kembali normal, keadaan emosional para remaja juga perlahan berubah. Rasa bahagia, semangat, dan pandangan yang lebih optimis mulai muncul kembali. Meski demikian, proses pemulihan ini tidak terjadi secara otomatis dan tidak dirasakan secara merata oleh semua remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 59 persen remaja berada dalam kondisi psikologis yang normal, tetapi 14,7 persen berada dalam kondisi waspada, dan 26,1 persen termasuk dalam kelompok berisiko. Angka ini menegaskan bahwa kembalinya kehidupan sosial tidak selalu diikuti dengan pulihnya kondisi mental.
Di balik aktivitas yang kembali berjalan, seperti sekolah dan interaksi sosial, masih banyak remaja yang menyimpan kelelahan emosional, kesulitan fokus, dan rasa gelisah yang belum sepenuhnya hilang. Penelitian tersebut juga menekankan bahwa pemulihan kesehatan mental remaja tidak cukup hanya dengan berakhirnya pandemi. Faktor yang sangat berperan adalah dukungan psikososial, terutama dari keluarga, teman sebaya, serta kepercayaan diri dalam menjalin hubungan sosial.
Keluarga menjadi faktor perlindungan yang paling kuat. Remaja yang merasa diperhatikan, didukung, dan benar-benar dipedulikan di lingkungan rumah cenderung lebih mampu menghadapi tekanan, mengurangi rasa kesepian, serta mengelola kecemasan dengan lebih baik. Dukungan dari teman sebaya juga tidak kalah penting, karena pada masa remaja, perasaan dipahami oleh orang yang seusia sering kali memberikan kekuatan emosional yang besar.
Namun, penelitian ini juga mengungkap bahwa kedekatan dalam keluarga tidak selalu berarti komunikasi berjalan dengan baik. Tidak semua remaja merasa nyaman untuk berbagi masalah pribadi dengan orang tua atau anggota keluarga lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran secara fisik saja belum cukup. Remaja membutuhkan ruang yang aman untuk berbicara, tanpa rasa takut dihakimi, serta tanpa tekanan untuk langsung menerima nasihat.
Temuan ini menjadi sangat relevan dengan kondisi saat ini, di mana banyak orang dewasa beranggapan bahwa remaja telah pulih hanya karena aktivitas sekolah kembali normal dan interaksi sosial meningkat. Padahal, kesehatan mental remaja jauh lebih kompleks daripada yang terlihat di permukaan. Ada remaja yang tampak baik-baik saja, tetapi sebenarnya masih menyimpan luka emosional dari masa pandemi.
Oleh karena itu, proses pemulihan seharusnya tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pemulihan aspek emosional dan sosial. Rasa aman, kepercayaan, dan keterhubungan perlu dibangun kembali, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah. Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai ruang yang peka terhadap kondisi psikologis siswa, menyediakan dukungan emosional, serta memperkuat hubungan antara guru, orang tua, dan siswa.
Pada dasarnya, remaja tidak selalu membutuhkan solusi yang besar atau kompleks. Sering kali, mereka hanya membutuhkan untuk didengarkan, dipercaya, dan diyakinkan bahwa perasaan mereka valid. Di sinilah peran keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar menjadi sangat penting. Pandemi telah memberikan pelajaran bahwa ketika situasi terasa tidak stabil, hubungan yang hangat dapat menjadi tempat berpijak. Bagi remaja, dukungan tersebut bisa menjadi faktor penentu antara sekadar bertahan dan benar-benar pulih secara utuh.