Pencapaian Sustainable Development Goals atau SDGs tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Tujuan pembangunan berkelanjutan membutuhkan kerja sama antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, organisasi masyarakat, media, dan berbagai aktor lain di tingkat masyarakat. Namun, semakin banyak pihak yang terlibat, semakin besar pula tantangan koordinasi yang muncul. Salah satu masalah utama dalam kolaborasi SDGs adalah perbedaan bahasa, standar, kepentingan, serta cara pandang antaraktor. Karena itu, dibutuhkan mekanisme komunikasi yang mampu menyatukan berbagai pihak dalam satu kerangka kerja yang koheren.

Dalam konteks ini, Enterprise Architecture atau arsitektur perusahaan dapat menjadi pendekatan yang relevan. Arsitektur perusahaan pada dasarnya digunakan untuk menjaga konsistensi antara tujuan, proses bisnis, sistem informasi, teknologi, dan sumber daya organisasi. Jika konsep ini diperluas ke tingkat masyarakat, maka arsitektur perusahaan dapat membantu menghubungkan kepentingan organisasi dengan agenda pembangunan berkelanjutan. Penelitian Perdana, Sitohang, Sastramihardja, dan Candra menunjukkan bahwa pendekatan arsitektur perusahaan berpotensi digunakan untuk mendukung orkestrasi SDGs melalui bahasa deskripsi arsitektur yang bersifat domain-specific language atau bahasa khusus domain.

Orkestrasi SDGs berbeda dengan koordinasi biasa. Orkestrasi merupakan bentuk tata kelola yang melibatkan satu pihak sebagai pengarah atau orchestrator, pihak perantara sebagai penghubung, serta pihak sasaran yang diharapkan dapat berkontribusi terhadap tujuan bersama. Abbott, Bernstein, dan Janzwood menjelaskan bahwa orkestrasi cocok digunakan dalam tata kelola yang melibatkan banyak aktor, terutama ketika hubungan antaraktor tidak bersifat komando langsung . Dalam konteks SDGs, pemerintah atau lembaga pengarah dapat berperan sebagai orchestrator, sementara perusahaan, akademisi, komunitas, dan organisasi lainnya dapat menjadi kontributor.

Agar proses tersebut berjalan efektif, dibutuhkan bahasa bersama yang mampu menjembatani kebutuhan tingkat masyarakat dan tingkat organisasi. Bahasa inilah yang disebut sebagai architecture description language. Dalam penelitian yang menjadi dasar artikel ini, bahasa tersebut dirancang sebagai domain-specific language untuk membantu dua aktor utama, yaitu orchestrator di tingkat masyarakat dan enterprise architect di tingkat organisasi. Dengan bahasa yang sama, program SDGs dapat diterjemahkan menjadi artefak arsitektur yang dapat dipahami oleh perusahaan. Sebaliknya, perusahaan juga dapat menunjukkan sumber daya, kapabilitas, dan kontribusi potensialnya melalui model arsitektur yang dapat dibaca oleh orchestrator.

Penelitian tersebut mengusulkan sebuah skenario bernama SDGs Participation Platform atau SDGs-PP. Platform ini digambarkan sebagai ruang kolaboratif yang memungkinkan berbagai peserta mengirimkan artefak, berbagi pengetahuan, mengelola sumber daya, serta mengintegrasikan kontribusi untuk pencapaian SDGs. SDGs-PP tidak hanya berfungsi sebagai tempat pertukaran informasi, tetapi juga sebagai sistem orkestrasi yang membantu menyusun program, memetakan kebutuhan, menghubungkan sumber daya, dan mengevaluasi kontribusi berbagai pihak .

Dalam pengembangan bahasa khusus domain tersebut, terdapat tiga kelompok kebutuhan utama, yaitu konteks, konsep, dan kolaborasi. Pertama, domain konteks berkaitan dengan kesamaan pemahaman antara pihak yang terlibat. Enterprise architect dan orchestrator perlu memahami tujuan SDGs, kepentingan organisasi, serta hubungan antara strategi bisnis dan agenda masyarakat. Standar ISO/IEC/IEEE 42010 digunakan sebagai dasar untuk menjelaskan bagaimana suatu arsitektur dipahami, dideskripsikan, dan dikaitkan dengan kepentingan para pemangku kepentingan.

Kedua, domain konsep berhubungan dengan elemen-elemen utama yang harus masuk ke dalam bahasa deskripsi arsitektur. Salah satu konsep penting adalah means of implementation atau sarana implementasi SDGs. Weber dan Weber menekankan bahwa implementasi SDGs tidak hanya membutuhkan target, tetapi juga cara, sumber daya, teknologi, pendanaan, kolaborasi, dan kapasitas kelembagaan yang memadai . Dalam artikel sumber, berbagai kata kunci seperti inovasi, kepemimpinan, kolaborasi, transparansi, akuntabilitas, interoperabilitas, pendanaan, serta digital government dianggap sebagai kandidat konsep yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan bahasa arsitektur.

Selain itu, konsep ekosistem bisnis juga digunakan untuk memahami hubungan antaraktor. Wieringa, Engelsman, Gordijn, dan Ionita menjelaskan bahwa ekosistem bisnis terdiri atas pemasok, pelanggan, pesaing, pelengkap, regulator, asosiasi, dan pemangku kepentingan lain yang saling berinteraksi untuk menciptakan nilai . Dalam konteks SDGs, konsep ini perlu disesuaikan karena tujuannya tidak hanya profit, tetapi juga nilai sosial dan keberlanjutan. Oleh karena itu, penelitian tersebut mengusulkan peran baru seperti orchestrator, consolidator, auditor, dan contributor.

Ketiga, domain kolaborasi berkaitan dengan cara kerja bersama. Bahasa deskripsi arsitektur harus mampu memisahkan tetapi tetap menghubungkan domain masyarakat dan domain perusahaan. Di dalam domain perusahaan, penelitian tersebut juga membedakan antara business mindset dan SDGs mindset. Business mindset mencerminkan orientasi perusahaan terhadap keuntungan dan keberlanjutan bisnis, sedangkan SDGs mindset mencerminkan kontribusi perusahaan terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan. Pemisahan ini penting agar kontribusi perusahaan terhadap SDGs tidak dianggap sebagai aktivitas tambahan semata, melainkan dapat diintegrasikan ke dalam desain arsitektur perusahaan.

Dengan demikian, pengembangan domain-specific language untuk orkestrasi SDGs berbasis arsitektur perusahaan dapat menjadi solusi untuk mengurangi kesenjangan komunikasi antaraktor. Bahasa tersebut memungkinkan pemerintah memahami potensi perusahaan, sekaligus membantu perusahaan menyelaraskan strategi bisnisnya dengan agenda pembangunan berkelanjutan. Di masa depan, pendekatan ini dapat diperkuat dengan teknologi digital, otomasi arsitektur, dan pemrosesan bahasa alami agar proses pemetaan sumber daya serta evaluasi kontribusi dapat dilakukan secara lebih cepat dan akurat.

Referensi

  1. G. Perdana, B. Sitohang, H. S. Sastramihardja, dan M. Z. C. Candra, “Requirements for Domain-Specific Language in Enterprise Architecture-based SDGs Orchestration,” International Journal on Advanced Science, Engineering and Information Technology, 2023. https://www.scopus.com/pages/publications/85183938544?origin=resultslist

(MHN)