Krisis COVID-19 membawa tekanan besar bagi usaha kecil dan menengah di Uni Emirat Arab, terutama karena sektor ini sangat bergantung pada stabilitas pasar, kelancaran operasional, dan kemampuan pemilik usaha dalam mengambil keputusan cepat. Dalam kondisi yang penuh ketidakpastian, banyak pelaku usaha kecil tidak lagi dapat mengandalkan pola kepemimpinan yang sama seperti sebelum pandemi. Mereka harus menyesuaikan cara memimpin agar bisnis tetap berjalan, karyawan tetap bertahan, dan hubungan dengan pelanggan tidak terputus. Pada masa pandemi, banyak usaha kecil mulai mengarah pada gaya kepemimpinan yang lebih berkelanjutan, yaitu pendekatan yang tidak hanya berfokus pada hasil jangka pendek, tetapi juga menekankan ketahanan usaha, kesejahteraan pekerja, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan yang mendadak. Dalam situasi seperti itu, kepemimpinan menjadi lebih dari sekadar alat kontrol; ia berubah menjadi cara untuk menjaga kesinambungan usaha dalam suasana yang tidak menentu.
Tidak semua usaha kecil merespons krisis dengan cara yang sama. Sebagian pemimpin usaha memilih mengubah gaya kepemimpinan mereka selama pandemi, sedangkan sebagian lainnya tetap mempertahankan pendekatan lama. Namun secara umum, kepemimpinan berkelanjutan muncul sebagai kecenderungan yang paling menonjol. Gaya ini dianggap lebih mampu membantu pelaku usaha menghadapi tekanan krisis karena menekankan keputusan yang lincah, pandangan jangka panjang, serta perhatian terhadap stabilitas organisasi. Di sisi lain, gaya kepemimpinan transaksional juga tetap digunakan, khususnya ketika pelaku usaha membutuhkan kontrol yang lebih tegas terhadap target, disiplin kerja, dan hasil yang harus dicapai dalam waktu cepat. Adapun gaya transformasional tetap hadir, tetapi tidak menjadi pilihan yang paling dominan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam masa krisis, banyak usaha kecil lebih membutuhkan kepemimpinan yang menjaga keseimbangan antara ketegasan operasional dan kemampuan bertahan secara berkelanjutan.
Setelah pandemi berlalu, perubahan cara memimpin itu ternyata tidak sepenuhnya kembali ke pola lama. Banyak usaha kecil tetap mempertahankan pendekatan kepemimpinan berkelanjutan pada masa pascapandemi. Pengalaman selama krisis tampaknya membuat para pemilik usaha semakin sadar bahwa kelangsungan bisnis tidak cukup dijaga hanya dengan orientasi keuntungan sesaat. Mereka mulai menilai bahwa kepemimpinan yang baik harus mampu memadukan ketahanan usaha, perhatian terhadap karyawan, serta kesiapan menghadapi perubahan di masa depan. Di masa setelah pandemi, kepemimpinan transaksional juga meningkat karena kebutuhan akan efisiensi, kinerja, dan akuntabilitas kembali menguat ketika bisnis mulai stabil. Meski demikian, kepemimpinan berkelanjutan tetap menjadi gaya yang paling banyak dipilih, yang menunjukkan bahwa pelaku usaha kecil di UEA melihat nilai penting dari kepemimpinan yang lebih etis, lebih tangguh, dan lebih siap menghadapi tantangan jangka panjang. Dengan demikian, pandemi bukan hanya mengubah cara usaha kecil bertahan, tetapi juga mengubah cara mereka memahami makna kepemimpinan itu sendiri.
Referensi:
Tantry, A., Gilani, S. A. M., Al Sabbah, S., Sitinjak, C., Khan, N., Mulla, T., Askri, S., & Bhat, R. M. (2025). Sustainable leadership styles adopted by small businesses in the UAE during and post COVID-19. Discover Sustainability, 2025.
https://www.scopus.com/pages/publications/105009731570?origin=resultslist
(TFR)