Kesehatan gigi merupakan bagian penting dari kehidupan remaja karena berpengaruh terhadap kenyamanan makan, berbicara, belajar, dan rasa percaya diri dalam berinteraksi. Dijelaskan bahwa karies gigi masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang banyak dialami remaja di Indonesia. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh kebiasaan konsumsi makanan dan minuman manis, kurangnya kesadaran menjaga kebersihan mulut, serta rendahnya kebiasaan memeriksakan gigi secara rutin. Pada masa remaja, pilihan makanan sering kali dipengaruhi oleh lingkungan, teman sebaya, dan kemudahan mendapatkan jajanan manis. Jika tidak diimbangi dengan pengetahuan dan kebiasaan merawat gigi yang benar, risiko gigi berlubang akan semakin besar. Masalah ini menjadi lebih serius di daerah yang akses layanan kesehatan giginya masih terbatas, terutama di wilayah pedesaan dan masyarakat dengan kondisi ekonomi rendah. Oleh karena itu, pendidikan kesehatan gigi menjadi cara penting untuk menanamkan pemahaman sejak dini bahwa menjaga kesehatan mulut bukan hanya tentang memiliki gigi yang bersih, tetapi juga tentang menjaga kualitas hidup secara keseluruhan.
Program pendidikan kesehatan gigi atau Dental Health Education berperan dalam membantu remaja memahami cara merawat gigi dengan benar, mulai dari menyikat gigi secara teratur, mengurangi konsumsi gula, menggunakan alat kebersihan mulut, hingga menyadari pentingnya pemeriksaan gigi. Program ini dapat dilakukan melalui sekolah, kegiatan masyarakat, kampanye kesehatan, maupun media digital. Disini ditunjukkan bahwa program yang dilakukan secara konsisten mampu menurunkan angka karies gigi sekitar 30% hingga 35%. Hasil yang lebih baik dapat dicapai apabila edukasi tidak hanya diberikan dalam bentuk ceramah, tetapi juga melalui praktik langsung, seperti kegiatan menyikat gigi bersama, pembagian sikat dan pasta gigi, serta pengawasan kebiasaan kebersihan mulut. Sekolah menjadi tempat yang strategis karena remaja menghabiskan banyak waktu di lingkungan tersebut dan lebih mudah dijangkau melalui kegiatan yang terencana. Namun, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh materi edukasi, melainkan juga oleh dukungan guru, orang tua, tenaga kesehatan, serta lingkungan sosial yang mendorong remaja untuk mempertahankan kebiasaan sehat.
Walaupun program pendidikan kesehatan gigi memiliki manfaat besar, pelaksanaannya masih menghadapi berbagai hambatan. Remaja yang tinggal di perkotaan umumnya lebih mudah memperoleh informasi, fasilitas kesehatan, dan produk kebersihan gigi dibandingkan remaja di daerah terpencil. Faktor ekonomi juga memengaruhi kemampuan keluarga untuk menyediakan sikat gigi, pasta gigi, atau biaya pemeriksaan ke dokter gigi. Selain itu, kepercayaan budaya tertentu dapat membuat sebagian masyarakat menganggap sakit gigi sebagai hal biasa dan baru mencari pertolongan ketika kondisi sudah parah. Karena itu, program pendidikan kesehatan gigi perlu disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat agar lebih mudah diterima. Perkembangan teknologi seperti aplikasi kesehatan, video edukasi, pesan pengingat melalui SMS, dan platform mobile health dapat menjadi sarana menarik untuk menjangkau remaja. Namun, pemanfaatan teknologi tetap perlu memperhatikan kesenjangan akses internet dan perangkat digital. Pada akhirnya, pendidikan kesehatan gigi harus dipandang sebagai upaya jangka panjang untuk membentuk kebiasaan sehat. Remaja yang terbiasa menjaga gigi dan mulut sejak dini akan memiliki peluang lebih besar untuk terhindar dari karies serta menikmati kualitas hidup yang lebih baik di masa depan.