Di era digital, bukti kejahatan tidak selalu berbentuk benda fisik yang mudah terlihat, tetapi dapat tersimpan dalam perangkat kecil seperti MicroSD. Meskipun ukurannya kecil, MicroSD mampu menyimpan banyak jenis data, mulai dari dokumen, gambar, video, catatan transaksi, hingga file yang telah dihapus. Karena itu, perangkat ini dapat menjadi sumber bukti penting dalam penyelidikan forensik digital. Artikel ini membahas perbandingan dua metode investigasi, yaitu National Institute of Justice (NIJ) dan National Institute of Standards and Technology (NIST), dalam memeriksa barang bukti berupa MicroSD. Dalam forensik digital, menjaga keaslian data merupakan hal yang sangat penting karena perubahan kecil pada file dapat memengaruhi validitas bukti. Oleh sebab itu, proses pengumpulan, pemeriksaan, analisis, dan pelaporan harus dilakukan dengan prosedur yang sistematis agar hasil investigasi dapat dipercaya.
Artikel tersebut menggambarkan skenario kasus penggelapan uang di sebuah perusahaan, ketika penyidik menemukan MicroSD yang diduga menyimpan data penting. Sebagian data dalam perangkat tersebut telah dihapus, sehingga diperlukan alat dan metode forensik untuk menemukan kembali file yang mungkin berkaitan dengan kasus. Metode NIJ dilakukan melalui tahapan yang lebih lengkap, yaitu identifikasi, pengumpulan, pemeriksaan, analisis, dan pelaporan. Tahap identifikasi membuat penyidik dapat menentukan terlebih dahulu jenis barang bukti dan memilih data yang menjadi prioritas, seperti file berbentuk PDF, DOCX, dan CSV yang berpotensi berhubungan dengan pencatatan keuangan. Dengan alur yang lebih rinci, metode NIJ cocok digunakan untuk investigasi yang membutuhkan ketelitian tinggi dan dokumentasi yang lengkap.
Sementara itu, metode NIST memiliki tahapan yang lebih ringkas, yaitu pengumpulan, pemeriksaan, analisis, dan pelaporan. Walaupun prosesnya lebih sederhana, metode ini tetap menjaga prinsip utama forensik digital, yaitu mempertahankan integritas dan keaslian data. Dalam penelitian ini, proses investigasi dilakukan dengan bantuan perangkat lunak FTK Imager untuk membuat salinan atau imaging dari MicroSD, kemudian dilanjutkan dengan Autopsy untuk memeriksa isi data, termasuk file yang masih ada, berubah, maupun telah dihapus. Perbandingan kedua metode menunjukkan bahwa NIJ lebih unggul dalam hal kelengkapan proses, sedangkan NIST lebih efisien dari segi waktu. Dengan demikian, pemilihan metode bergantung pada kebutuhan investigasi, apakah lebih mengutamakan kedalaman analisis atau kecepatan proses.
Dalam konteks teknopreneurship, temuan ini penting karena pelaku usaha berbasis teknologi membutuhkan metode kerja yang cepat, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan. Teknopreneur yang bergerak di bidang keamanan digital, layanan investigasi data, atau perlindungan informasi perlu memahami bahwa metode forensik yang digunakan akan memengaruhi kualitas hasil pemeriksaan. NIJ dapat menjadi pilihan ketika kasus membutuhkan bukti yang sangat detail dan laporan yang menyeluruh, sedangkan NIST dapat digunakan ketika investigasi membutuhkan proses yang lebih cepat tanpa mengabaikan keaslian data. Pada akhirnya, forensik digital bukan hanya persoalan teknis komputer, tetapi juga bagian dari upaya menjaga keamanan, kepercayaan, dan keadilan di tengah perkembangan teknologi. Pemahaman terhadap metode investigasi yang tepat dapat membantu teknopreneur membangun layanan yang lebih profesional, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan era digital.